Apa Yang Kita Pedulikan? Siapa Yang Kita Andalkan

0
283

Oleh : IL

1 Samuel 13:1-23

Setelah 2 tahun memerintah atas Israel, raja Saul menghadapi situasi yang kritis. Itulah saat imannya diuji.
Juga menjadi saat yang menentukan apakah tampuk pemerintahan akan tetap padanya dan keturunannya.

Saat itu beberapa daerah Israel masih dalam pendudukan orang Filistin. Saul memilih 3.000 orang untuk melawan Filistin
2.000 bersama Saul, 1.000 bersama Yonathan, anak Saul. Yonatan memukul kalah pasukan pendudukan orang Filistin yang ada di Geba. Karena itu Saul menyuruh meniup sangkakala di seluruh negeri, sebab pikirnya: “Biarlah orang Ibrani mendengarnya.”

Tujuan Saul meniup sangkakala di seluruh tanah Israel adalah agar membangkitkan semangat seluruh orang Israel untuk bersatu melawan Filistin. Rakyat dikerahkan mengikuti Saul ke Gilgal, yaitu tempat berkumpulnya bangsa Israel untuk menghadap Tuhan.

Sementara itu apa yang dilakukan orang Filistin? Mereka berkumpul untuk berperang melawan Israel, mengerahkan 3.000 kereta, 6.000 pasukan berkuda, dan pasukan berjalan kaki yang tak terhitung banyaknya. Lalu mereka bergerak maju.

Rakyat Israel terjepit, terdesak. Apa yang rakyat lakukan? Bersembunyi di gua, lubang-lubang di bukit batu dan sumur.
Ada juga yang kabur menyeberang Sungai Yordan. Beberapa masih tinggal namun gemetar ketakutan. Saat-saat genting tersebut Saul masih bertahan di Gilgal. Sehari, dua hari. Saul berusaha menenangkan rakyatnya agar bertahan sampai hari ke 7 seperti yang dijanjikan Samuel. Bahwa di hari ke 7, Samuel akan datang untuk bersama-sama menghadap Tuhan.
Tapi Samuel tidak muncul-muncul. Rakyat pun kecewa dan bubar jalan meninggalkan Saul raja mereka.

Melihat rakyat meninggalkannya, Saul panik dan mengambil inisiatif untuk menggantikan Samuel mempersembahkan korban bakaran kepada Tuhan. Bukankah itu inisiatif yang baik?

Ternyata tidak!
Dengan keras Samuel menegur Saul. Saat ditegur. Saul sama sekali tidak menyesal apalagi bertobat. Ia malah berdalih dan memberikan 4 alasan “kuat” untuk tindakannya:

  • rakyat berserak-serak meninggalkannya
  • Samuel tidak datang pada waktu yang telah ditentukan
  • orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, dan sebentar lagi akan menyerang.
  • mau memohonkan belas kasihan TUHAN

Akibat perbuatan Saul yang terlihat “sepele” tersebut, ternyata berakibat fatal, dampaknya sangat besar!
Inilah perkataan Samuel: “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”

Kemudian Samuel pergi. Apa yang Saul lakukan?
Tetapi Saul memeriksa barisan rakyat yang ada bersama-sama dengan dia itu: kira-kira (hanya) enam ratus orang banyaknya.
=> menunjukkan Saul tidqk peduli dengan teguran nabi Samuel, yang ia pedulikan adalah seberapa banyak rakyat yang masih mendukungnya.

Perenungan:

  1. Pasal ini banyak menuliskan tentang angka-angka jumlah tentara baik itu tentara Israel, maupun Filistin.

Saul sangat memedulikan jumlah orang yang mendukungnya, seberapa besar kekuatan pasukannya..
Semula 3,000, lalu Saul mengerahkan seluruh rakyat Israel, tapi saat genting hanya 600 orang saja yang ada bersama-sama Saul.

Ia mengandalkan kekuatannya sendiri & kekuatan pasukan yang mendukungnya.
Alhasil ketika kritis di mana kekuatan berkurang tentara sembunyi dan tercerai-berai meninggalkannya, ia panik kehilangan apa yang ia andalkan.

==> Ketika fokus pada seberapa besar kekuatan diri seorang pemimpin yang diurapi Tuhan pun akan jatuh, karena ternyata yang ia andalkan adalah kekuatannya sendiri, dan kekuatan orang-orang yang mendukungnya.
Ternyata yang jadi andalan bukan Tuhan yang telah mengangkat dan menugaskannya menjadi pemimpin!

Peristiwa di pasal 13 ini dilanjutkan dengan peristiwa di pasal 14 yang bertolak belakang dengan keyakinan Saul bahwa kemenangan ditentukan berapa kekuatan pasukan.
Pasal 14 memperlihatkan bagaimana Tuhan memberikan kemenangan kepada Israel bahkan hanya dengan 2 orang!
Ada kutipan perkataan iman Yonathan sebuah iman yang seharusnya dimiliki oleh ayahnya, yaitu raja Saul.

1 Samuel 14:6b
sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.”

Ketika mengandalkan manusia akan kecewa tetapi ketika mengandalkan Tuhan tidak pernah mengecewakan.

Roma 5:3-5
Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,
dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.

  1. Seberapa besar seseorang menghormati Tuhan, menghormati Firman Tuhan, menghormati hamba-Nya akan terlihat dalam situasi kritis.
    Ketika pelanggaran terhadap perintah Tuhan menjadi hal biasa, hal “sepele” dan harus dimaklumi dengan berbagai alasan dan saat ditegur pun tidak ada pertobatan. Hal itu menunjukkan bahwa ia tidak menghormati Tuhan!
  2. Ketidaktaatan pada perintah Tuhan menyebabkan dampak yang besar yang sering tak terpikirkan, yaitu menggagalkan rancangan Tuhan terjadi dalam kehidupan kita.

Aplikasi:

  1. Mari check
    a. Apa sebenarnya yang paling kita pedulikan dalam hidup kita? apakah semua tentang diri kita?
    b. Siapakah yang kita andalkan saat datang masa kritis?
  2. Jadikan Tuhan sebagai andalan satu-satunya dalam hidup kita.
  3. Hargai sungguh-sungguh rancangan Tuhan yang terbaik atas hidup kita dengan bersikap hormat, takut dan gentar kepada Tuhan, setia dan taat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here