Hidup di Dalam Tuhan vs Hidup di Luar Tuhan

0
129

Oleh : IL

Bacaan: Pengkotbah 1 & 2

Kitab Pengkotbah ditulis oleh raja Salomo, anak Daud.
Menarik sekali..di pasal pertama kitab ini menuliskan tentang kesusahan-kesusahan yang dialami oleh manusia, dan disimpulkan bahwa semua kesusahan-kesusahan itu adalah sia-sia.
Kemudian di pasal 2 secara kontras, raja Salomo, seorang paling berhikmat sekaligus paling kaya yang pernah ada dalam sejarah dunia menuliskan bahwa bahkan dalam segala keberhasilan-keberhasilan, kesenangan-kesenangan & semua pemuasan keinginan tanpa batas yang ia alami.. ternyata……… semua itu sia-sia juga!

Wahh…
apakah artinya kehidupan manusia sungguh tidak berarti?
Apakah semua yang dilakukan manusia tidak berdampak apa pun?
Benarkah tidak ada gunanya…..?
Apakah Tuhan Allah menciptakan manusia tanpa ada tujuan?
Apakah manusia selesai hanya sampai hari kematiannya?
Hilang begitu saja, tidak ada kelanjutannya?

Bila kita simak baik-baik.. ternyata bukan itu yang dimaksud oleh pengkotbah.
Sebaliknya..pengkotbah menceritakan kepada pembacanya mengenai hal-hal yang dengan sungguh-sungguh ia telah teliti, pelajari, bahkan ia alami sendiri dan inilah kesimpulannya:

  1. Pengejaran manusia akan keberhasilan, hanya bernilai sementara, sangat terbatas, tidak ada yang kekal sehingga semua itu adalah sia-sia.

Keberhasilan yang dicapai hanya akan berguna sampai masa yang terbatas, setelah itu mungkin bahkan tidak akan diingat lagi.
Apa yang dibangun suatu saat akan hancur, habis, musnah.
Apa yang dianggap manusia sebagai penemuan maupun keberhasilan, hanya semu, tidak ada yang istimewa.

Hal ini sungguh benar, istana raja Salomo yang dibangun begitu megah, mewah bersalutkan emas murni saat ini sudah tidak ada lagi
bahkan tidak perlu waktu yang terlalu lama, yaitu pada jaman Rehabeam, anak raja Salomo, benda-benda berharga dan perisai emas kebanggaan Salomo pun sudah dijarah oleh Kerajaan Mesir (2 Tawarikh 12:9-10).
Kerajaan Israel, yang mencapai masa kejayaan saat raja Salomo memerintah sehingga kerajaan-kerajaan sekelilingnya takluk dan membayar upeti pada jaman anak Salomo, kerajaan Israel pecah bahkan keturunan Salomo hanya menguasai wilayah yang tidak terlalu luas (2 Tawarikh 10:17).

Dan Salomo sudah mengetahui tentang hal ini sebelum semua itu terjadi, sehingga ia menulis dalam Pengkhotbah 2:18-21 :
Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku.
Dan siapakah yang mengetahui apakah orang itu berhikmat atau bodoh?
Meskipun demikian ia akan berkuasa atas segala usaha yang kulakukan di bawah matahari dengan jerih payah dan dengan mempergunakan hikmat. Ini pun sia-sia.
Dengan demikian aku mulai putus asa terhadap segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari.
Sebab, kalau ada orang berlelah-lelah dengan hikmat, pengetahuan dan kecakapan, maka ia harus meninggalkan bahagiannya kepada orang yang tidak berlelah-lelah untuk itu. Ini pun kesia-siaan dan kemalangan yang besar.

  1. Pengejaran manusia akan kebahagiaan, kesenangan dan semua pemuasan keinginan tanpa batas…itu pun sia-sia !
    tidak akan pernah memberikan kebahagiaan yang sejati.

Pengkhotbah 2:1, 3-4, 7, 9-11
AKU berkata kepada diriku sendiri, “Ayo, bersukarialah! Nikmatilah kesenangan dengan sepenuh-penuhnya! “
Tetapi ini juga ternyata sia-sia karena bodoh rasanya kalau kita terus-menerus tertawa dan bersukaria.
Apakah faedahnya? Demikianlah, setelah banyak berpikir, aku memutuskan untuk memuaskan diri dengan minum-minum sementara aku tetap mencari kebijaksanaan.
Setelah itu aku berganti haluan lagi dan mengikuti jalan kebodohan supaya aku dapat mengalami satu-satunya kebahagiaan yang dirasakan oleh kebanyakan orang sepanjang umur mereka.
Kemudian aku mencoba mencari kepuasan dengan melancarkan proyek-proyek besar bagiku sendiri:
Membangun perumahan, mengolah perkebunan anggur, pertamanan, perkebunan buah-buahan, dan membuat waduk-waduk untuk mengairi perkebunanku.
Lalu aku membeli budak-budak, laki-laki maupun perempuan, dan mereka beranak-cucu di rumahku.
Aku juga memiliki sapi dan kambing domba yang jumlahnya lebih banyak daripada yang dimiliki oleh raja mana pun sebelum aku. Aku mengumpulkan perak dan emas melalui penarikan pajak dari raja-raja dan dari berbagai propinsi.
Aku menghimpun penyanyi-penyanyi, laki-laki dan perempuan.
Di samping itu, ada banyak gundikku yang cantik-cantik.
Demikianlah aku menjadi lebih besar daripada raja mana pun di Yerusalem sebelum aku, dan dalam pada itu pikiranku tetap terang sehingga aku dapat menilai semua hal itu.
Apa pun yang aku inginkan, aku ambil, dan aku tidak menahan diri dalam mencari kesenangan.
Aku bahkan mendapat kesenangan dari kerja keras.
Sesungguhnya kesenangan inilah yang merupakan satu-satunya upah untuk segala jerih payahku.
Tetapi, ketika aku merenungkan segala sesuatu yang telah kucoba, semuanya ternyata sia-sia saja, sama seperti mengejar-ngejar angin, dan di kolong langit ini tidak ada yang benar-benar bermanfaat.

  1. Kehidupan yang dijalani di luar Tuhan adalah sia-sia.
  2. Hal yang terbaik adalah ketika manusia hidup di dalam Tuhan, melakukan bagiannya yaitu mengerjakan apa yang Tuhan percayakan kepadanya dan di dalam segala yang dilakukannya, mendapat anugerah untuk menikmati hasil pekerjaannya.

(2:24)
Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya.
Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah.

Berkali-kali pengkotbah menegaskan bahwa kesempatan menikmati hasil pekerjaan itu hanya diberikan oleh Tuhan, (3:13 ; 5:19),
dan hanya diperoleh ketika seseorang hidup di dalam Tuhan.

Pengkhotbah 2:25
Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?

Dan ada orang-orang tertentu yang sekalipun telah bekerja keras, namun tidak karunia menikmati (6:2), dan tentu saja itulah yang dimaksud oleh pengkotbah sebagai kesia-siaan… atau dengan kata lain.. ngenes bangett…siapakah itu?
Yaitu orang-orang berdosa, orang-orang yang hidup di luar Tuhan!

Pengkhotbah 2:26b
tetapi orang berdosa ditugaskan-Nya untuk menghimpun dan menimbun sesuatu yang kemudian harus diberikannya kepada orang yang dikenan Allah. Ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin.

Kesimpulan:
Kebaikan & kehidupan yang bermakna hanya dapat dialami ketika manusia berjalan di dalam jalan-jalan Sang Pencipta.

Pengkhotbah 2:24 (FAYH)
Maka terpikirlah olehku bahwa tidak ada yang lebih baik bagi orang daripada menikmati makanan serta minumannya dan pekerjaannya.
Kemudian aku sadar bahwa kesenangan ini pun berasal dari tangan Allah.
Siapakah yang dapat makan dan merasakan kenikmatan kalau terpisah dari Dia?
Karena Allah memberikan kebijaksanaan, pengetahuan, dan sukacita kepada orang yang menyukakan hati-Nya;
tetapi kepada orang yang berdosa.
Allah memberikan tugas untuk mengumpulkan dan menimbun kekayaan yang kemudian akan diberikan kepada orang yang menyukakan hati-Nya
.
Jadi, di sini pun kita dapat melihat contoh kesia-siaan, sama seperti mengejar-ngejar angin belaka.

Aplikasi:

Kolose 3:23-24
Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah.
Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.

1 Korintus 15:58
Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!
Sebab kamu tahu, bahwa DALAM PERSEKUTUAN DENGAN TUHAN jerih payahmu TIDAK SIA-SIA.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here