Apakah Urusanku Dengan Engkau ?

0
472

Oleh : IL

2 Raja-raja 3:1-3, 13-14
Yoram, anak Ahab, menjadi raja di Samaria atas Israel. Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN,
tetapi bukan seperti ayahnya (Ahab) dan seperti ibunya (Izebel): ia menjauhkan tugu berhala Baal yang didirikan ayahnya.
Namun demikian, ia masih berpaut kepada dosa Yerobeam bin Nebat
yang mengakibatkan orang Israel berdosa pula;
ia tidak menjauhinya.

Tetapi berkatalah Elisa kepada raja Israel: “Apakah urusanku dengan engkau? Pergilah kepada para nabi ayahmu dan kepada para nabi ibumu.” ….. Berkatalah Elisa: “Demi TUHAN semesta alam yang hidup, yang di hadapan-Nya aku menjadi pelayan:
jika tidak karena Yosafat, raja Yehuda, maka sesungguhnya aku ini tidak akan memandang dan melihat kepadamu.

Perenungan:

  1. Raja Yoram (raja Israel Utara, anak Ahab), menjauhkan tugu berhala Baal yang didirikan ayahnya.
    Mungkin Yoram sudah merasa cukup baik, juga sudah merasa “kembali” menjadi umat Tuhan.
    Namun,.. apakah benar demikian?

Narasi di ayat 1-3 tentang raja Yoram menunjukkan pandangan Tuhan terhadap Yoram, yaitu sekalipun ia telah menjauhkan tugu berhala Baal, namun di mata Tuhan, Yoram tetap penyembah berhala, karena ia masih terpaut dengan penyembahan ala Yerobeam bin Nebat,
yaitu menyembah patung lembu yang disebut sebagai Allah yang membawa keluar dari Mesir. (1 Raja-raja 12:28)

  1. Perkataan nabi Elisa kepada raja Yoram:
    “Apakah urusanku dengan engkau?
    Pergilah kepada para nabi ayahmu dan kepada para nabi ibumu.” juga mencerminkan hubungan Tuhan dengan raja Yoram,
    yaitu… tidak ada hubungan, tidak ada urusan!

Tidak ada ikatan perjanjian apa pun dengan raja Yoram, karena di mata Tuhan, Yoram yang sekalipun adalah raja Israel,
namun … tidak ada bedanya dengan orang-orang yang bukan umat Tuhan, penyembah-penyembah berhala.

Tuhan adalah Tuhan yang melakukan perjanjian dengan umat-Nya. Ketika umat Tuhan berlaku tidak setia, meninggalkan Tuhan,
maka berada dalam posisi tidak berhak menerima janji Tuhan, tidak layak meminta pertolongan Tuhan kecuali ada hati yang mau bertobat tentunya.

Aplikasi:

  1. Berhati-hati dengan kehidupan penyembahan kita, bukan apa yang menurut kita benar, tapi apakah benar di hadapan Tuhan.
  2. Memelihara perjanjian dengan Tuhan dengan berlaku setia, melakukan perintah-perintah Tuhan dengan kerelaan hati untuk mau taat,
    sehingga saat kita memerlukan pertolongan Tuhan, Tuhan akan menjawab dan memberikan jaminan pemeliharaanNya (lihat Mazmur 55:22; 1 Petrus 5:7)
  3. Menyadari bahwa ketidaksetiaan pada Tuhan menimbulkan konsekuensi yang fatal, yaitu kehilangan hak untuk menerima janji-janji Tuhan,
    dan terutama … putusnya hubungan dengan Tuhan.

Matius 7:22-23
Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka
dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here