Menganggap Diri Pandai

0
132

Oleh : IL

Amsal 26:4-5 (BIMK)
Orang yang menjawab pertanyaan orang dungu, sama bodohnya dengan orang itu.
Pertanyaan yang bodoh harus dijawab dengan jawaban yang bodoh pula, supaya si penanya sadar bahwa ia tidak pandai seperti yang disangkanya.

Menarik sekali..
Kutipan amsal di atas mengajarkan bagaimana menghadapi orang bodoh atau dungu (sangat bodoh).
Bodoh dalam amsal ini ternyata bukan tentang orang yang kurang berpendidikan, atau orang yang ber-IQ rendah.
Wahh.. jadi tentang siapa ya?
Dalam ayat 5b dituliskan bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu menganggap diri mereka pandai.
Jadi dapat disimpulkan bahwa ini tentang orang-orang bodoh secara rohani.
Mungkin mereka ada di antara orang-orang pintar secara ilmu pengetahuan, bergelar, bahkan para profesor yang jenius, atau mungkin ada di antara orang-orang yang briliant dalam berbisnis, dan lain-lain.

Banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh orang-orang tersebut, yang mempertanyakan keberadaan Tuhan, meragukan kekuasaan & kedaulatan Tuhan.

Misalnya:
Bila Tuhan Mahakuasa dan sanggup membuat pedang yang dapat menembus apa pun maka apakah Tuhan juga dapat membuat perisai yang tidak dapat ditembus apa pun?
Dan seterusnya…
Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan sejenis yang dilontarkan orang-orang yang merasa diri lebih pintar dari Tuhan!
Mereka mempertanyakan mengapa Tuhan yang penuh kasih, namun membiarkan adanya kejahatan di dalam dunia.
Dan mereka sangat puas ketika orang percaya tidak dapat menjawabnya.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu keluar dari hati yang menolak Tuhan, merasa lebih baik dari Tuhan, bukan yang sungguh-sungguh mau mencari kebenaran.

Itulah yang disebut orang bodoh oleh penulis amsal.
Ada pertanyaan-pertanyaan bodoh yang tidak perlu dijawab.
Penulis amsal mengajarkan agar jangan terlibat debat kusir yang hanya akan membuang-buang waktu.
Karena bila kita ikut terhanyut di dalamnya, maka kita akan menjadi sama bodohnya dengan mereka.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak ada manfaatnya sama sekali.
Hanya meninggikan ego si penanya.
Masalahnya…
Dengan merasa diri benar seperti itu, apa yang diperoleh oleh si penanya, selain tetap di dalam kebinasaannya …..
karena menolak menundukkan diri untuk mencari Pribadi Allah yang berada jauh di atas logika manusia.
Yang hanya dapat dikenal ketika DIA menyatakan diri kepada ciptaanNya yaitu melalui Alkitab, FirmanNya kepada seluruh manusia ciptaanNya.

Penulis amsal memberikan cara yang dapat menyadarkan orang-orang yang bodoh rohani, agar mereka sadar bahwa mereka tidak pandai seperti yang disangkanya.
Yaitu dengan menjawab dengan jawaban yang bodoh pula.
Apa maksudnya?
Antara lain dengan membalikkan pertanyaan mereka.

Bila benar bahwa Tuhan tidak ada, dan segala sesuatu terjadi dengan sendirinya (teori Big bank, teori evolusi).
Lalu, setelah badai besar menerpa sebuah bengkel mobil, apakah mungkin tiba-tiba muncul pesawat terbang super canggih tanpa ada penciptanya?

Aplikasi:

  1. Sadari & akui bahwa hikmat kita sangat terbatas.
    Sadari & imani bahwa hikmat Tuhan Pencipta jauh melebihi hikmat manusia ciptaan-Nya.
    Tundukkan logika, pikiran kita di bawah terang Firman Tuhan.
    Ketika ada hal-hal yang tidak dimengerti, minta Roh Kudus menerangi hati dan pikiran kita sehingga menangkap maksud Tuhan.
    Jangan ngotot dengan pemikiran sendiri, karena jangan-jangan kita termasuk kategori orang bodoh yang merasa diri pandai seperti yang ditulis oleh penulis amsal.
  2. Minta hikmat ketika menghadapi orang-orang yang menolak Tuhan, yang menolak pengenalan akan Tuhan, agar dapat menjawab dengan tepat, agar kebenaran dibukakan kepada orang-orang yang belum mengenal Tuhan.
    Minta Roh Kudus membukakan selubung agar mata rohani orang-orang terbuka untuk melihat terang Tuhan, dan bisa menerima kebenaran.

1 Korintus 2:13-16
Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.
Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani.
Tetapi manusia rohani menilai segala sesuatu, tetapi ia sendiri tidak dinilai oleh orang lain.
Sebab: “Siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan, sehingga ia dapat menasihati Dia?” Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.

Yesaya 55:9
Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Roma 11:33-36
Ò, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah!
Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!
Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan?
Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?
Atau siapakah yang pernah memberikan sesuatu kepada-Nya, sehingga Ia harus menggantikannya?
Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here