Aku Hendak Menyanyikan Kasih Setia Tuhan Selama-lamanya

0
441

Oleh : IL

Mazmur 89 ditulis oleh Etan, orang Ezrahi.
Mazmur ini sebenarnya merupakan mazmur ratapan, yang dimulai dari ayat 38-51:
“Tetapi Engkau sendiri menolak dan membuang, menjadi gemas kepada orang yang Kauurapi, membatalkan perjanjian dengan hamba-Mu,
menajiskan mahkotanya laksana debu, .. dan seterusnya.

Kita bisa mendapat gambaran tentang Israel saat itu dari jeritan hati pemazmur di ayat-ayat 38-51 tersebut, antara lain tentang raja-raja yang berusia pendek, benteng-benteng kota hancur, menjadi rampasan musuh..umat Tuhan yang begitu terpuruk menjadi cela & ejekan bangsa-bangsa.

Ada yang menafsirkan bahwa mazmur ini ditulis setelah masa kejayaan Israel, yaitu pasca Salomo saat Israel telah pecah dan makin terpuruk, begitu tidak berdayanya sampai rajanya ditawan oleh musuh (Yoyakhim).
Dan tentu saja ini semua akibat pelanggaran Israel, umat Tuhan yang telah melanggar perjanjian dengan Tuhan, melakukan penyembahan berhala.

Namun apa yang dituliskan di awal sampai pertengahan, serta kalimat penutup mazmur ini menyatakan pengharapan yang kuat dari pemazmur, bahwa sekalipun kenyataan seakan jauh dari janji Tuhan, sepertinya Tuhan ingkar janji.
Tapi.. inilah komitmennya…
“Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun.
Woww… mengapa bisa demikian?
Inilah alasannya….
(2-5) Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit.
Engkau telah berkata: “Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku, Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:
Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu, dan membangun takhtamu turun-temurun.” dan seterusnya.

Kemudian pemazmur menuliskan tentang siapa Allah sesungguhnya :
(6-7) Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN, yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi?
Allah disegani dalam kalangan orang-orang kudus, dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya.
Ya TUHAN, Allah semesta alam, siapakah seperti Engkau? Engkau kuat, ya TUHAN, dan kesetiaan-Mu ada di sekeliling-Mu.

Ada hal yang menarik yang dituliskan pemazmur, yang agak menggelitik….Pemazmur seperti “menagih” janji Tuhan..

Janji Tuhan yang seperti apa ? Yaitu janji bahwa Allah setia, sekalipun umat Tuhan tidak setia.

(28-37)
Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia untuk selama-lamanya, dan perjanjian-Ku teguh bagi dia.
Aku menjamin akan adanya anak cucunya sampai selama-lamanya, dan takhtanya seumur langit.
Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku
*dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku, *
jika ketetapan-Ku mereka langgar dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku,
maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada, dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan.
Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaan-Ku.
Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah.

Sekali Aku bersumpah demi kekudusan-Ku, tentulah Aku tidak akan berbohong kepada Daud:
Anak cucunya akan ada untuk selama-lamanya, dan takhtanya seperti matahari di depan mata-Ku,
seperti bulan yang ada selama-lamanya, suatu saksi yang setia di awan-awan.” Sela
Ketika membandingkan kondisi Israel saat itu (38-51), dengan janji Tuhan di atas, (28-37) seperti bumi & langit.
Sepertinya Tuhan membatalkan perjanjianNya (39).

Namun inilah yang pemazmur lakukan.
Sekalipun mata jasmani melihat fakta yang belum sesuai janji Tuhan, pemazmur tetap menundukkan logika nya di bawah Firman Tuhan
tetap mengakui kedahsyatan Tuhan, yang berarti mengakui keterbatasan diri & keterbatasan pemahaman atas semua yg terjadi.

Sehingga setelah bait curhatan & keluhan serta ketidak mengertian pemazmur di ayat 38-51.
Tiba-tiba pemazmur menutup dengan kalimat tegas, (51) Terpujilah TUHAN untuk selama-lamanya! Amin, ya amin.
Kalimat di atas menunjukkan komitmen pemazmur dengan Tuhan!

Perenungan & Aplikasi:

  1. “Aku hendak menyanyikan kasih setia Tuhan selama-lamanya”,
    Kalimat di atas diucapkan pemazmur bukan ketika keadaan sedang baik-baik saja, *atau ketika sudah mengalami pemulihan.
    Tapi ketika keadaan sedang terpuruk, di titik terendah.

Pemazmur bukan seperti seorang yang mengakui kedaulatan Tuhan yang dapat berbuat semena-mena terhadap umatNya, tapi .. pemazmur sungguh-sungguh percaya akan kasih setia Tuhan. Beriman kepada Tuhan yang teguh memegang perjanjian.
Sehingga ia yakin bahwa sekalipun ia belum mengerti, ia akan tetap setia menyembah Tuhan & pengharapan di dalam Tuhan seperti sauh yang kuat.

  1. Ketika fakta yang terlihat tidak sesuai dengan janji Tuhan..apakah yang kita pikirkan? Kata-kata apakah yang keluar dari mulut kita?
    Apakah seperti pemazmur masih dapat melihat kedahsyatan Tuhan sehingga muncul kesadaran akan keterbatasan diri & tetap dapat berkomitmen sebagai umat Tuhan yang memuji & menyembah Tuhan?

Ibrani 6:19
Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here