Apakah Iman Bisa Diwariskan?

0
277

Oleh : AP

Pembacaan 2 Tawarikh 25 & 2 Raj-Raja 14

2 Tawarikh 25:1-9, 14-16 (TB) Amazia berumur dua puluh lima tahun pada waktu ia menjadi raja dan dua puluh sembilan tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem; nama ibunya ialah Yoadan, dari Yerusalem.
Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN, hanya tidak dengan segenap hati.
Segera sesudah kuasa kerajaan itu kokoh di tangannya, dibunuhnyalah pegawai-pegawainya yang telah membunuh raja, yaitu ayahnya.
Tetapi anak-anak mereka tidak dihukum mati olehnya, melainkan ia bertindak sesuai dengan apa yang tertulis dalam Taurat, yakni kitab Musa, di mana TUHAN telah memberi perintah: “Janganlah ayah mati karena anaknya, janganlah juga anak mati karena ayahnya, melainkan setiap orang harus mati karena dosanya sendiri.”
Lalu Amazia mengumpulkan orang Yehuda dan menyuruh mereka, yakni seluruh orang Yehuda dan Benyamin, berdiri menurut puak-puaknya di bawah kepala-kepala pasukan seribu dan kepala-kepala pasukan seratus. Ketika ia menghitung mereka yang berumur dua puluh tahun ke atas, didapatinya tiga ratus ribu teruna yang sanggup keluar berperang dengan tombak dan perisai.
Selain itu ia menyewa seratus ribu pahlawan yang gagah perkasa dari Israel dengan bayaran seratus talenta perak.
Tetapi seorang abdi Allah datang kepadanya dan berkata: “Ya raja, janganlah tentara Israel dibiarkan bergabung kepada tuanku, karena TUHAN tidak menyertai Israel, yakni semua bani Efraim ini.
Dan jikalau mereka bergabung juga, bagaimanapun juga perbuatan dan kekuatanmu di dalam perang, Allah akan menggelincirkan engkau di depan musuh, sebab Allah mempunyai kuasa untuk menolong dan menggelincirkan!”
Lalu kata Amazia kepada abdi Allah itu: “Bagaimana dengan seratus talenta yang telah kuberikan kepada pasukan-pasukan Israel itu?” Jawab abdi Allah itu: “TUHAN dapat memberikan lebih dari pada itu kepadamu!”
Ketika Amazia kembali, setelah mengalahkan orang-orang Edom itu, ia mendirikan para allah bani Seir, yang dibawanya pulang, sebagai allahnya. Ia sujud menyembah kepada allah-allah itu dan membakar korban untuk mereka.
Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Amazia; Ia menyuruh seorang nabi kepadanya yang berkata: “Mengapa engkau mencari allah sesuatu bangsa yang tidak dapat melepaskan bangsanya sendiri dari tanganmu?”
Waktu nabi sedang berbicara, berkatalah Amazia kepadanya: “Apakah kami telah mengangkat engkau menjadi penasihat raja? Diamlah! Apakah engkau mau dibunuh?” Lalu diamlah nabi itu setelah berkata: “Sekarang aku tahu, bahwa Allah telah menentukan akan membinasakan engkau, karena engkau telah berbuat hal ini, dan tidak mendengarkan nasihatku!”

Perenungan dan Penerapan
Tentunya bagi orang tua yang sudah mempunyai anak, kita ingin anak-anak kita ‘mewarisi iman’ kepercayaan kepada Kristus.
Tetapi apakah iman dapat diwariskan?
Paulus mengatakan ia mengingat iman nenek dan Ibu Timotius.
Dalam kisah Amasia kita akan sama-sama belajar bahwa iman bisa diimpartasikan tetapi tidak bisa diwariskan.

Ada beberapa point penting yang bisa kita perhatikan:

  1. Amaziah mempunyai ibu yang baik dan beriman
    Raja Yoas dinikahkan dengan dua orang wanita yang dipilihkan Imam Yoyada untuk menjadi pendampingnya
    2 Tawarikh 24:3
    Yoyada mengambil dua orang isteri bagi dia; dari mereka ia mendapat anak laki-laki dan anak perempuan.

Dicatat salah satu istri Yoas adalah Yoadan.
Yoadan mengajarkan Hukum-hukum Tuhan kepada Amaziah semenjak dari anak-anak.

Ketika Amaziah membalas kematian ayahnya dengan membunuh pembunuh-pembunuh ayahnya, ia tidak membunuh keturunan mereka karena ia melakukan sesuai dengan Taurat Tuhan.

Penanaman Firman Tuhan di usia muda sangat penting mempengaruhi keputusan-keputusan seorang anak.

  1. Perjuangan Iman
    Iman harus diimpartasikan… tetapi dalam menghadapi kedewasaan dan tantangan dalam kehidupan iman seseorang bisa gugur.

Amaziah setelah menjadi raja (umur 25 tahun) bisa berubah setia kepada Tuhan, kedudukan, kekuasaan, kesombongan dan godaan bisa menjauhkan seorang anak dari Firman Tuhan.

Amaziah menyewa orang-orang Israel untuk berperang, ketika ditegur ia memutuskan untuk memulangkan mereka lebih atas pertimbangan ekonomi (Tuhan akan mengganti lebih dari 100 talenta perak).

  1. Keputusan iman
    Pada akhirnya seorang anak akan menjadi lebih tua dan dewasa di mana ia harus mengambil keputusan iman.
    Allah mana yang akan disembahnya.

Amaziah walaupun sudah ditanamkan Firman Tuhan dan mengalami kemenangan dari Tuhan lebih memilih untuk menyembah dewa-dewa Moab.
Seseorang bisa mengambil keputusan bodoh dalam hidupnya (menyembah dewa bangsa yang dikalahkannya dan menentang nasihat nabi-nabi).

Tidak jelas apakah ibunya sudah meninggal saat itu atau apakah sudah tidak bisa menasihati nya lagi.

Kesimpulan:
Iman bisa diimpartasikan kepada seorang anak, seperti Timotius yang menjadi rekan Paulus
Tetapi iman tidak bisa dipaksakan atau diwariskan.
Penting bagi anak-anak orang percaya untuk mengambil keputusan yang benar dalam kehidupan rohaninya.

Terus berdoa minta pertolongan Roh Kudus agar anak-anak kita memutuskan hal-hal yang benar dalam hidupnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here