Berserah Bukan Menyerah

0
10

Oleh : IL

2 Samuel 15:13-37

Lalu datanglah seseorang mengabarkan kepada Daud, katanya: “Hati orang Israel telah condong kepada Absalom.”
Kemudian berbicaralah Daud kepada semua pegawainya yang ada bersama-sama dengan dia di Yerusalem: “Bersiaplah, marilah kita melarikan diri, sebab jangan-jangan kita tidak akan luput dari pada Absalom. Pergilah dengan segera, supaya ia jangan dapat lekas menyusul kita, dan mendatangkan celaka atas kita dan memukul kota ini dengan mata pedang!”
Para pegawai raja berkata kepada raja: “Terserah kepada tuanku raja! Hamba-hambamu ini siap!”
Lalu keluarlah raja dan seisi rumahnya mengiringi dia; sepuluh orang gundik ditinggalkan raja untuk menunggui istana.
Maka keluarlah raja dan seluruh orang-orangnya mengiringi dia. Dekat rumah yang terakhir mereka berhenti
sedang semua pegawainya berjalan melewatinya, juga semua orang Kreti dan semua orang Pleti. Juga semua orang Gat, enam ratus orang banyaknya, yang mengiringi dia sejak dari Gat, berjalan melewati raja.
Lalu bertanyalah raja kepada Itai, orang Gat itu: “Mengapa pula engkau berjalan beserta kami? Pulanglah dan tinggallah bersama-sama raja, sebab engkau orang asing, lagipula engkau orang buangan dari tempat asalmu.
Baru kemarin engkau datang, masakan pada hari ini aku akan membawa engkau mengembara bersama-sama kami, padahal aku harus pergi entah ke mana. Pulanglah dan bawalah juga saudara-saudaramu pulang; mudah-mudahan TUHAN menunjukkan kasih dan setia kepadamu!”
Tetapi Itai menjawab raja: “Demi TUHAN yang hidup, dan demi hidup tuanku raja, di mana tuanku raja ada, baik hidup atau mati, di situ hambamu juga ada.”
Lalu berkatalah Daud kepada Itai: “Jika demikian, berjalanlah lewat.” Kemudian lewatlah Itai, orang Gat itu, bersama-sama dengan semua orangnya dan semua anak yang menyertai dia.
Seluruh negeri menangis dengan suara keras, ketika seluruh rakyat berjalan lewat. Raja menyeberangi sungai Kidron dan seluruh rakyat berjalan ke arah padang gurun.
Dan lihat, juga Zadok ada di sana beserta semua orang Lewi pengangkat tabut perjanjian Allah. Mereka meletakkan tabut Allah itu — juga Abyatar ikut datang — sampai seluruh rakyat dari kota selesai menyeberang.
Lalu berkatalah raja kepada Zadok: “Bawalah tabut Allah itu kembali ke kota; jika aku mendapat kasih karunia di mata TUHAN, maka Ia akan mengizinkan aku kembali, sehingga aku akan melihatnya lagi, juga tempat kediamannya.
Tetapi jika Ia berfirman, begini: Aku tidak berkenan kepadamu, maka aku bersedia, biarlah dilakukan-Nya kepadaku apa yang baik di mata-Nya.”
Lagi berkatalah raja kepada Zadok, imam itu: “Jadi, engkau dan Abyatar, pulanglah ke kota dengan selamat beserta anakmu masing-masing, yakni Ahimaas anakmu dan Yonatan, anak Abyatar.
Ketahuilah, aku akan menanti di dekat tempat-tempat penyeberangan ke padang gurun, sampai ada kabar dari kamu untuk memberitahu aku.”
Lalu Zadok dan Abyatar membawa tabut Allah itu kembali ke Yerusalem dan tinggallah mereka di sana.
Daud mendaki bukit Zaitun sambil menangis, kepalanya berselubung dan ia berjalan dengan tidak berkasut. Juga seluruh rakyat yang bersama-sama dengan dia masing-masing berselubung kepalanya, dan mereka mendaki sambil menangis.
Ketika kepada Daud dikabarkan, demikian: “Ahitofel ada di antara orang-orang yang bersepakat dengan Absalom,” maka berkatalah Daud: “Gagalkanlah kiranya nasihat Ahitofel itu, ya TUHAN.”
Ketika Daud sampai ke puncak, ke tempat orang sujud menyembah kepada Allah, maka datanglah Husai, orang Arki, mendapatkan dia dengan jubah yang terkoyak dan dengan tanah di atas kepala.
Berkatalah Daud kepadanya: “Jika engkau turut dengan aku, maka engkau menjadi beban kepadaku nanti,
tetapi jika engkau kembali ke kota dan berkata kepada Absalom: Aku ini hambamu, ya raja, sejak dahulu aku hamba ayahmu, tetapi sekarang aku menjadi hambamu, — dengan demikian engkau dapat membatalkan nasihat Ahitofel demi aku.
Bukankah Zadok dan Abyatar, imam-imam itu, ada bersama-sama engkau di sana? Jadi segala yang kaudengar dari dalam istana raja, haruslah kauberitahukan kepada Zadok dan Abyatar, imam-imam itu.
Ingatlah, di sana bersama-sama dengan mereka ada kedua anak mereka, Ahimaas anak Zadok dan Yonatan anak Abyatar; dengan perantaraan mereka haruslah kamu kirimkan kepadaku segala hal yang kamu dengar.”
Dan tibalah Husai, sahabat Daud, di Yerusalem tepat pada waktu Absalom masuk ke kota itu.

Perenungan:
Menarik sekali ketika membaca narasi tentang peristiwa pelarian raja Daud saat kudeta yang dilakukan anaknya sendiri yaitu Absalom.
Daud sangat mengerti bahwa apa yang Absalom lakukan tidak selaras dengan rancangan Tuhan.
Tuhan telah menetapkan Daud menjadi raja atas Israel, dan ketetapan Tuhanlah yang sah.
Ketika Absalom berikhtiar dan melakukan konspirasi untuk menjatuhkan ayahnya, maka Absalom sedang melawan Tuhan, melawan apa yang Tuhan sudah tetapkan.

Apa saja yang Daud lakukan dalam menghadapi situasi tersebut?

  1. Daud tidak memikirkan dirinya sendiri
    a. Daud mencegah terjadinya perang saudara
    Daud melarikan diri keluar dari istana kerajaan, keluar dari Yerusalem, ibu kota kerajaan bukan karena takut dikalahkan oleh Absalom, terbukti orang-orangnya Daud adalah ksatria-ksatria yang gagah perkasa yang 1 orang saja dapat mengalahkan ratusan musuh.
    Daud keluar dari Yerusalem untuk menghindari terjadinya perang saudara karena Israel sudah terpecah menjadi 2 kubu, yaitu yang mendukung raja Daud dan yang berpihak kepada Absalom.
  2. Daud tidak menyerah
    Ketika keluar dari Yerusalem, Daud membuat strategi agar masih ada orang-orangnya yang setia yang bisa memberikan informasi, juga menaruh Husai penasihatnya sendiri agar mematahkan nasihat Ahitofel, penasihat Daud yang sudah membelot kepada Absalom.
  3. Daud berserah kepada Tuhan
    Ketika dalam situasi yang sangat genting, Daud datang kepada Tuhan.
    Daud naik ke bukit Zaitun untuk sujud menyembah Tuhan.
    Ketika dalam pelarian dari kudeta yang dilakukan Absalom, anaknya, Daud menggubah Mazmur 3.
    Di dalam Mazmur tersebut Daud menyampaikan tetang banyaknya musuh yang bangkit menyerangnya, dan orang-orang tersebut berkata mencemooh Daud sehingga dikatakan Tuhan Allah Daud tidak memberi pertolongan.
    Namun Daud sangat mengenal Tuhan Allah nya, dengan yakin Daud menyatakan bahwa Tuhan adalah perisai yang melindunginya, yang akan memberinya kemenangan, yang akan membela & mengangkat kepala Daud.
    Daud mengingat bagaimana Tuhan telah menolongnya di masa lalu.
    Sekalipun saat itu sepertinya Tuhan tidak menolong, sehingga membiarkan Daud, raja yang Tuhan telah urapi, harus turun tahta, dan mengungsi entah ke mana..
    Namun Daud sangat percaya..
    bahwa dari TUHAN akan datang pertolongan dan berkat!

Raja Daud berserah penuh kepada Tuhan, bukan hanya berupa kata-kata menghibur diri atau orang-orangnya, namun sungguh-sungguh dari dalam hatinya.
Daud dapat tidur dengan tenang & percaya ia akan bangun kembali karena Tuhanlah yang menopangnya.
Ia tidak takut …. sekalipun puluhan ribu orang mengepungnya.

Aplikasi:
Apakah kita menghadapi situasi sulit seperti yang Daud hadapi, di mana seakan buntu, tidak ada jalan, tidak ada satu pun pilihan yang baik?
Mari belajar merespon seperti raja Daud, sbb:

  1. Tidak memikirkan diri sendiri
  2. Tidak menyerah
    Meminta hikmat dan strategi dalam menghadapi segala situasi.
  3. Berserah kepada Tuhan
    Percaya penuh bahwa Tuhan pasti memberikan perlindungan & pertolongan pada waktunya, dengan syarat kita tetap hidup dalam ketaatan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here