Tetapi Tuhan Melihat Hati

0
51

Oleh : IL

(BE Markus 7:20-23)

Kata-Nya lagi:
“Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan.
Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.”

Perenungan:
Orang-orang Farisi & ahli-ahli Taurat sangat mementingkan apa yang terlihat dari luar, mereka begitu teliti & berhati-hati menjaga jangan sampai ada kenajisan dari luar masuk mencemari diri mereka…namun ….sayang sekali…mereka sama sekali mengabaikan apa yang di dalam.

Yesus menyatakan dengan sangat jelas bahwa…bukan makanan yang masuk dari luar yang menajiskan bukan tangan yang tidak dicuci mengikuti ritual Yahudi yang menajiskan. Tapi yang menajiskan adalah… hati yang kotor penuh kejahatan!

Pikiran jahat pun sudah termasuk dosa yang menajiskan, sekalipun tidak ada yang mengetahui..sekalipun belum direalisasikan menjadi tindakan jahat.

Percabulan dimulai dari hati yang tidak kudus, sudah ada keinginan yang tidak kudus, pikiran yang mengikuti hawa nafsu, sekalipun belum dilakukan..sekalipun tidak ada seorg pun yang mengetahui….namun sudah membuat orang tersebut najis, kotor, cemar.

Iri hati, dosa ini tidak kasat mata dan bisa tidak terlihat oleh siapa pun.
Kadang dosa ini terdeteksi dari perkataan-perkataan.
Atau tindakan…
Dan Yesus mengatakan bahwa dosa ini bukan dosa yang kecil, iri hati pun menajiskan orang.

Kesombongan, bisa terlihat dari perkataan, sikap, perlakuan terhadap sesama atau terhadap Tuhan.
Bisa juga muncul dalam bentuk lain, yaitu rasa minder, mengasihani diri sendiri.
Minder bisa muncul akibat ekspektasi yang tinggi terhadap diri namun tidak tercapai.
Ada kesombongan rohani, di mana orang tersebut merasa sangat rohani sehingga merasa lebih tinggi dari orang lain.

Kebebalan, hati yang tidak mempan lagi untuk diajar, dikoreksi, ditegur, hati yang tidak mau berubah ke arah yang lebih baik.
Hati yang menolak Tuhan, menolak pengenalan akan Tuhan.
Mungkin orang tersebut merasa diri sudah paling benar..sudah lebih baik dari semua orang lain.
Namun di hadapan Allah.. ia najis, kotor, & hina.

Aplikasi:

  1. Menyadari bahwa masalah hati adalah hal utama yang sangat Tuhan perhatikan.
    Tuhan ingin kita bersih tidak tercemari oleh apa pun, agar berkat-berkatNya yang disediakan bagi kita tidak terhalang,
    agar rancanganNya dapat tergenapi dalam hidup kita.
  2. Adakah hal yang tidak berkenan kepada Tuhan, yang kita anggap “kecil” tersimpan rapat-rapat di dalam hati kita, yang tak seorang pun mengetahuinya.
    Mari bereskan, akui di hadapan Tuhan, meminta pengampunanNya, minta Tuhan membasuh hati kita menjadi bersih, agar hidup kita dijauhkan dari segala kenajisan, agar hidup kita berkenan kepada Tuhan.
  3. Berhati-hati dengan semua hal yang membawa kita kembali kepada kecemaran, baik berupa lingkungan pertemanan yang buruk,
    gadget, sosmed, game atau apa pun.

Sikap hati yang tidak mau tunduk kepada Tuhan akan menghasilkan pilihan-lihan buruk.
Setiap pilihan buruk yang kita lakukan, akan mempengaruhi atmosfer rohani kita.
Setiap keputusan yang bertentangan dengan hukum-hukum Tuhan, akan membawa kecemaran dalam kehidupan kita.

1 Samuel 16:7b
Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Ibrani 10:22
Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.

2 Korintus 7:1
Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.

2 Petrus 2:20-22
Sebab jika mereka, oleh pengenalan mereka akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus, telah melepaskan diri dari kecemaran-kecemaran dunia, tetapi terlibat lagi di dalamnya, maka akhirnya keadaan mereka lebih buruk dari pada yang semula.
Karena itu bagi mereka adalah lebih baik, jika mereka tidak pernah mengenal Jalan Kebenaran dari pada mengenalnya, tetapi kemudian berbalik dari perintah kudus yang disampaikan kepada mereka.
Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini:
“Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here