Oleh : IL
Bacaan: 1 Samuel 30-31
Bila dibandingkan betapa panjangnya perjalanan pelarian Daud dari Saul yang ditulis mulai pasal 19 sampai 29, dan terjadi sekitar 14 tahun…
Maka peristiwa demi peristiwa di 2 pasal terakhir kitab 1 Samuel terjadi begitu cepatnya..
Pasal 30 diawali dengan kisah pilu di mana tempat pengungsian Daud di daerah orang Filistin yaitu di Ziklag, dibakar oleh orang Amalek..
Semua isteri, anak-anak, dan orang-orang nya Daud selain tentara, ditawan oleh Amalek.
Hartanya juga semua dijarah!
Sudah tidak ada lagi yang tersisa….
Bahkan saat itu pengikut setianya…
Para ksatria yang telah dilatih oleh Daud sejak di gua Adulam pun telah menjadi seterunya, dan mau melempari Daud dengan batu!
Orang-orang yang dikasihi sudah tidak ada…
Harta kekayaan sudah lenyapp…
Tempat tinggal pun sudah menjadi puing-puing tunggul berasap…
Orang-orang kepercayaan balik menyerang…
Namun inilah yang dilakukan Daud…
Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya. (1 Samuel 30:6c)
Mengapa Daud bisa seperti itu?
Mengapa Daud tidak putus asa dan menyerah?….
Karena Daud berpegang pada janji Tuhan, pada rancangan Tuhan…
bahwa Tuhan telah merancangkan Daud menjadi raja bagi Israel, umat Tuhan!
Daud datang kepada Tuhan dan bertanya apa yang harus ia lakukan…
apakah ia harus mengejar musuh?
apakah ia akan berhasil?
Dan Tuhan meyakinkan Daud bahwa ia akan berhasil mengejar musuhnya & akan menang.
Padahal saat itu Daud tidak tahu harus mengejar ke arah mana…
Namun Tuhan menunjukkan jalan lewat seorang Mesir, budak Amalek yang ditinggalkan karena sakit.
Apakah ini kebetulan?
Tentu saja bukan!
Lewat informasi yang diberikan orang tersebut Daud mengejar Amalek, dan mengalahkannya dengan telak.
Bukan hanya berhasil membawa isteri, anak, dan semua orang, dan harta milik yang dijarah,
bahkan Daud memperoleh jarahan yang sangat besar sehingga Daud bisa membagi-bagikannya kepada para tua-tua di Yehuda dan teman-temannya (1 Samuel 30:26-31).
Sementara itu….
yang terjadi pada raja Saul dan anak-anaknya adalah sebuah malapetaka..
Filistin sedang dalam perang besar melawan Israel,
dan Filistin berhasil membunuh anak-anak Saul, dan melukai Saul dengan anak panah.
Dan dalam keadaan terluka parah Saul memutuskan untuk bunuh diri dengan menjatuhkan diri ke atas pedang.
Kematian raja Saul menjadi akhir pelarian Daud, dan menjadi awal era kepemimpinan Daud menjadi raja Israel
yang diawali dengan menjadi raja atas Yehuda.
Semua terjadi begitu cepat!
Bayangkan..
apa jadinya bila Daud menyerah saat peristiwa Ziklag…
dan berkata.. Tuhan.. cukup sampai di sini.. aku lelahhh terus menerus dalam pelarian.. bahkan mengalami peristiwa naas sampai menghabiskan semuanya tanpa sisa..
Tanpa peristiwa Ziklag, tidak ada jarahan yang dapat dibagi-bagikan kepada tua-tua Yehuda.
Keadaan Daud Tuhan ubahkan seperti membalikkan telapak tangan..
Dari kehilangan segalanya… menjadi menerima kembali segalanya bahkan mendapat jarahan yang sangat besar sampai bisa dibagi-bagikan.
Dari seorang buronan kerajaan… menjadi raja.
Aplikasi:
- Menyadari bahwa ada kalanya Tuhan ijinkan masalah demi masalah terjadi dalam kehidupan kita,
dengan tujuan untuk memproses kita, mempersiapkan kita untuk rancanganNya yang besar. - Menyadari bahwa ketika kita setia dalam proses, maka masalah ada expire date nya.
Akan ada waktunya Tuhan memberi kita kemenangan.
So…
Jangan pernah kehilangan pengharapan di dalam Tuhan. - Saat semuanya sepertinya habis-habisan…
saat menghadapi “Ziklag” …..
tetap kuatkan iman percaya kita..
Sadari bahwa Tuhan sanggup membalikkan keadaan seperti membalikkan telapak tangan..
So…
Jangan pernah menyerah….. karena jangan-jangan kita sudah berada di ujung proses dan inilah waktunya menerima kemenangan tersebut!











