Oleh : IL
Matius 10:40-42 (TSI3.4)
“Di mata Allah, orang yang menerima kalian sebagai utusan-Ku dianggap sama seperti menerima Aku secara langsung.
Dan siapa pun yang menerima Aku berarti menerima Allah yang mengutus Aku.
Siapa yang menyambut seorang nabi karena menyadari bahwa nabi itu utusan Allah, maka orang itu akan turut menerima berkat Allah seperti yang diberikan kepada seorang nabi.
Dan siapa yang menyambut orang benar karena dia memang orang benar, maka orang itu akan turut menerima berkat Allah seperti yang diberikan kepada orang-orang benar.
Aku menegaskan kepadamu:
Siapa pun yang menolong salah satu pengikut-Ku, sekalipun hanya memberi secangkir air minum kepadanya, orang itu pasti akan menerima upah dari Allah atas perbuatannya.”
Perenungan:
Beberapa hal yang dapat dipelajari dari perikop di atas:
- Orang percaya adalah utusan Allah, duta Kerajaan Allah di dunia.
a. Keberadaan kita di dunia itu karena ada tujuan Tuhan, yaitu menjadi saksi-Nya.
b. Tuhan ingin kita tidak hanya berkumpul di dalam komunitas orang percaya, tetapi keluar menjangkau jiwa-jiwa. - Tuhan memandang kita benar-benar sebagai wakilNya di dunia
a. Siapa yang menerima kita disebutkan sama dengan menerima Yesus, menerima Allah Pencipta itu sendiri.
b. Tuhan menyediakan berkat dan upah bagi orang-orang yang menerima kita sebagai utusan Tuhan, yang memerlakukan kita dengan baik.
Aplikasi:
a. Menghargai kehormatan tersebut dengan hidup selaras dan selayaknya sebagai utusan Kristus, yang menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah & belajar terus menjadi serupa Kristus dalam karakter.
b. Menyadari bahwa Tuhan begitu menghargai kita, sehingga Tuhan menyediakan upah bagi siapa pun yang menerima & memperlakukan kita dengan baik.
c. Menyadari bahwa Tuhan telah memperlengkapi kita dengan kuasa.
Kuasa yang dipakai mendemontrasikan kuasa Tuhan untuk kemuliaan Tuhan, bukan kemuliaan diri kita.
Dengan tujuan menarik orang datang kepada Tuhan Allah yang sejati.
Tidak bergerak atau menginjil dengan kekuatan kita sendiri, tapi dengan hikmat Roh Kudus, kuasa & kekuatan dari Tuhan.
d. Berfungsi sebagai utusan Tuhan:
- pergi keluar, karena kita telah diutus
- memberitakan Injil dengan keyakinan bahwa kita berjalan dengan otoritas dari Tuhan, bukan hanya karena kemauan kita sendiri, dan tidak dengan keraguan, malu atau rendah diri.
e. Menyadari bahwa Tuhan mengutamakan ketaatan kita, masalah hasil itu urusan Tuhan karena tidak ada seorang pun yang dipertobatkan oleh usaha kita, semua karena karya Roh Kudus bukan kepintaran atau kuat gagah kita.
- Menyadari sebagai utusan Tuhan dalam misi penyelamatan dunia, fokus kita bukanlah kepada diri kita, tetapi kepada jiwa-jiwa, kepada orang-orang kepada siapa kita diutus Tuhan.
a. Melatih diri untuk tidak hanya fokus & sibuk dengan urusan diri sendiri, mengejar keinginan & kepuasan pribadi, namun mulai fokus keapada misi Tuhan yang kita emban. Mulai mengenakan kasut kerelaan memberitakan Injil. (Efesus 6:15)
b. Kita datang sebagai pembawa berkat Tuhan yang akan diterima oleh orang yang mau menerima kita.
c. Kita datang sebagai pembawa pesan keselamatan kepada orang-orang yang masih dalam hukuman maut kekal.
Menyadari bahwa ini tentang hidup kekal dan mati kekal, sehingga kita menyampaikannya dengan sungguh-sungguh dan tidak menggantikannya dengan “injil-injil lain” yang tidak berisi pesan keselamatan oleh Yesus Kristus, yang hanya berisi kebaikan moral & hal-hal yang bersifat humanis, namun tidak menyelamatkan. (Galatia 1:6-10).











