Oleh : IL
1 Samuel 23:1-5
Diberitahukanlah kepada Daud, begini:
“Ketahuilah, orang Filistin berperang melawan kota Kehila dan menjarah tempat-tempat pengirikan.”
Lalu bertanyalah Daud kepada TUHAN:
“Apakah aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu?”
Jawab TUHAN kepada Daud:
“Pergilah, kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila.”
Tetapi orang-orang Daud berkata kepadanya: “Ingatlah, sedangkan di sini di Yehuda kita sudah dalam ketakutan, apalagi kalau kita pergi ke Kehila, melawan barisan perang orang Filistin.”
Lalu bertanya pulalah Daud kepada TUHAN, maka TUHAN menjawab dia, firman-Nya: “Bersiaplah, pergilah ke Kehila, sebab Aku akan menyerahkan orang Filistin itu ke dalam tanganmu.”
Kemudian pergilah Daud dengan orang-orangnya ke Kehila; ia berperang melawan orang Filistin itu, dihalaunya ternak mereka dan ditimbulkannya kekalahan besar di antara mereka. Demikianlah Daud menyelamatkan penduduk Kehila.
Perenungan:
Narasi dalam kitab 1 Samuel memperlihatkan kontras yang begitu besar antara Saul, sebagai raja Israel pertama, dengan Daud yang Tuhan pilih menjadi raja Israel kedua menggantikan Saul.
Daud yang saat itu dalam posisi belum jadi raja, dan sedang dalam status buronan negara, berkali-kali bertanya kepada Tuhan mengenai apa yang harus ia lakukan.
Dan setelah menjadi raja pun, Daud tetap menjadikan Tuhan sebagai Raja, sebagai Otoritas pengambil keputusan, tempat ia bertanya apa yang harus ia lakukan.
Bandingkan dengan Saul…
Saul sepertinya begitu rohani karena merasa perlu untuk datang kepada Tuhan sebelum pergi berperang, sampai-sampai ia merasa perlu menggantikan tugas nabi Samuel untuk membakarkan korban bakaran dan korban keselamatan bagi Tuhan (1 Samuel 13),
tetapi tindakan-tindakan yang ia ambil adalah ketidak taatan demi ketidak taatan..
Bagi Saul, Tuhan hanya seperti pelengkap yang hanya dihubungi bila diperlukan, bukan sebagai yang Utama dan Terutama..
Nats di atas memperlihatkan bagaimana Tuhan selalu menjawab ketika Daud bertanya.
Ini sungguh-sungguh indah…
Lalu bertanyalah Daud… maka Tuhan menjawab dia…
Woww…
Daud sungguh-sungguh mencari.. ingin tahu jawaban Tuhan.
Dan bukan hanya ingin tahu..
Jawaban Tuhan itu menjadi arahan tuntunan mutlak yang dilakukan Daud.
Perkataan Tuhan bukan pilihan yang hanya dilakukan kalau mau.
Bagi Daud, ketika bertanya pada Tuhan, ia sudah tidak berpikir-pikir atau mempertimbangkannya lagi…
satu-satunya pilihan adalah taat, jalankan tepat seperti yang Tuhan mau.
Aplikasi:
- Bagaimana kita sebagai orang percaya, sebagai umat Tuhan memperlakukan Tuhan?
Apakah sebagai satu-satunya Sumber Hikmat, Sumber Jawaban dalam hidup kita?
Ataukah hanya salah satu dari banyak pilihan dan solusi yang mau kita ambil? - Apakah kita sungguh-sungguh menghampiri Tuhan untuk mencari hikmat, tuntunan dan jawaban?
Ataukah kita berdoa hanya sebagai formalitas atau kewajiban agama saja? - Menyadari bahwa Tuhan adalah Allah yang berbicara, yang menjawab doa, yang mau dan ingin menuntun anak-anakNya.
Menyadari bahwa Tuhan selalu menjawab orang-orang yang datang dengan kerendahan hati untuk meminta tuntunanNya. Mari ubah mindset bahwa menunggu jawaban Tuhan adalah perkara yang sukar dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa mendengar arahan Tuhan.
Menyadari bahwa yang seringkali penghalang adalah ketika kita memaksakan keinginan kita kepada Tuhan, ketika ada dosa dan ketidaktaatan. Mari selaraskan hati, pikiran, keinginan dan doa kita dengan kehendak Tuhan.
Mazmur 25:12
Siapakah orang yang takut akan TUHAN?
Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.
1 Yohanes 5:14
Dan inilah keberanian percaya kita kepada-Nya, yaitu bahwa Ia mengabulkan doa kita, jikalau kita meminta sesuatu kepada-Nya menurut kehendak-Nya.
Yesaya 59:1-2
Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;
tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.











