“Terbaik” Cara Kita vs Terbaik Cara Tuhan

0
245

Oleh : IL

2 Samuel 6:1-10
Daud mengumpulkan pula semua orang pilihan di antara orang Israel, tiga puluh ribu orang banyaknya.
Kemudian bersiaplah Daud, lalu berjalan dari Baale-Yehuda dengan seluruh rakyat yang menyertainya, untuk mengangkut dari sana tabut Allah, yang disebut dengan nama TUHAN semesta alam yang bertakhta di atas kerubim.
Mereka menaikkan tabut Allah itu ke dalam kereta yang baru setelah mengangkatnya dari rumah Abinadab yang di atas bukit.
Lalu Uza dan Ahyo, anak-anak Abinadab, mengantarkan kereta itu.
Uza berjalan di samping tabut Allah itu, sedang Ahyo berjalan di depan tabut itu.
Daud dan seluruh kaum Israel menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga, diiringi nyanyian, kecapi, gambus, rebana, kelentung dan ceracap.
Ketika mereka sampai ke tempat pengirikan Nakhon, maka Uza mengulurkan tangannya kepada tabut Allah itu, lalu memegangnya, karena lembu-lembu itu tergelincir.
Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Uza, lalu Allah membunuh dia di sana karena keteledorannya itu; ia mati di sana dekat tabut Allah itu.
Daud menjadi marah, karena TUHAN telah menyambar Uza demikian hebatnya; maka tempat itu disebut orang Peres-Uza sampai sekarang.
Pada waktu itu Daud menjadi takut kepada TUHAN, lalu katanya: “Bagaimana tabut TUHAN itu dapat sampai kepadaku?”
Sebab itu Daud tidak mau memindahkan tabut TUHAN itu ke tempatnya, ke kota Daud, tetapi Daud menyimpang dan membawanya ke rumah Obed-Edom, orang Gat itu.

Raja Daud berupaya melakukan yang terbaik untuk membawa tabut Tuhan ke Yerusalem.
Apa saja yang Daud lakukan?
a. Mengumpulkan 30 ribu orang pilihan
b. Berjalan kaki dengan seluruh rakyat dari Baale-Yehuda
c. Memuji Tuhan dan menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga, diiringi orchestra alat musik yang lengkap
d. Membuat kereta baru khusus untuk mengangkut Tabut.

Namun yang terjadi adalah malapetaka. Salah satu pembawa Tabut mati saat berusaha menahan agar Tabut Tuhan tidak jatuh saat lembu2 tergelincir.

Bagaimana respon raja Daud?
Marah sekaligus takut! Marah, karena menganggap Tuhan terlalu tega dengan menyambar Uza sampai mati untuk kesalahan yang tidak disengaja. Takut kepada Tuhan, dan memikirkan bagaimana tabut tersebut bisa sampai ke Yerusalem.

Perenungan:
Raja Daud berusaha memberikan yang terbaik saat akan membawa Tabut Tuhan.
Namun… Ternyata niat baik dan usaha keras saja tidak cukup, yang sangat penting untuk tidak boleh dilewatkan adalah menanyakan petunjuk Tuhan.
Perlu sungguh-sungguh mencari tahu, bagaimana cara melakukan sesuai yang Tuhan kehendaki.
Akhirnya Daud menyadari kesalahannya tersebut (1 Tawarikh 15:13).
Ternyata Tabut Tuhan harus dibawa dengan cara diusung, bukan dibawa dengan kereta. Dan hanya imam-imam suku Lewi lah yang boleh mengusungnya sesuai petunjuk Tuhan ( Keluaran 25; Ulangan 31:9)

Aplikasi:

  1. Apakah kita merasa marah ketika ada penghukuman Tuhan, ataukah kita mau introspeksi dan merendahkan diri di hadapan Tuhan untuk mencari petunjuk-Nya?

Hati-hati dengan dosa kesombongan ketika pola pikir kita lebih mengutamakan logika atau kemanusiaan. Bahkan menganggap diri lebih baik, lebih benar dari Tuhan dan tidak menghormati kekudusan Tuhan.

  1. Dalam setiap hal yang Tuhan percayakan (keluarga, pelayanan, pekerjaan, usaha), apakah kita merasa sudah memberikan yang terbaik kepada Tuhan?
    Mari cek, apakah kita sudah meminta petunjuk Tuhan bagaimana cara yang berkenan kepada-Nya?
    Ataukah kita berjalan sendiri menganggap apa yang kita lakukan sudah baik?

Memberikan yang terbaik =
hati yg mau mencari petunjuk Tuhan + upaya maksimal + cara yang berkenan kapada Tuhan
.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here