Lalu Daud Pergi Menanyakan Petunjuk Tuhan

0
7

Oleh : IL

2 Samuel 21:1-14

Dalam zaman Daud terjadilah kelaparan selama tiga tahun berturut-turut, lalu Daud pergi menanyakan petunjuk TUHAN.
Berfirmanlah TUHAN:
“Pada Saul dan keluarganya melekat hutang darah, karena ia telah membunuh orang-orang Gibeon.”
Lalu raja memanggil orang-orang Gibeon dan berkata kepada mereka, — orang-orang Gibeon itu tidak termasuk orang Israel, tetapi termasuk sisa-sisa orang Amori dan walaupun orang Israel telah bersumpah kepada mereka, Saul berikhtiar membasmi mereka dalam kegiatannya untuk kepentingan orang Israel dan Yehuda, —
Daud berkata kepada orang-orang Gibeon itu: “Apakah yang dapat kuperbuat bagimu dan dengan apakah dapat kuadakan penebusan, supaya kamu memberkati milik pusaka TUHAN?”
Lalu berkatalah orang-orang Gibeon itu kepadanya: “Bukanlah perkara emas dan perak urusan kami dengan Saul serta keluarganya, juga bukanlah urusan kami untuk membunuh seseorang di antara orang Israel.” Tetapi kata Daud: “Apakah yang kamu kehendaki akan kuperbuat bagimu?”
Sesudah itu berkatalah mereka kepada raja: “Dari orang yang hendak membinasakan kami dan yang bermaksud memunahkan kami, sehingga kami tidak mendapat tempat di mana pun di daerah Israel, biarlah diserahkan tujuh orang anaknya laki-laki kepada kami, supaya kami menggantung mereka di hadapan TUHAN di Gibeon, di bukit TUHAN.” Lalu berkatalah raja: “Aku akan menyerahkan mereka.”
Tetapi raja merasa sayang kepada Mefiboset bin Yonatan bin Saul, karena sumpah demi TUHAN ada di antara mereka, di antara Daud dan Yonatan bin Saul.
Lalu raja mengambil kedua anak laki-laki Rizpa binti Aya, yang dilahirkannya bagi Saul, yakni Armoni dan Mefiboset, dan kelima anak laki-laki Merab binti Saul, yang dilahirkannya bagi Adriel bin Barzilai, orang Mehola itu, kemudian diserahkannyalah mereka ke dalam tangan orang-orang Gibeon itu. Orang-orang ini menggantung mereka di atas bukit, di hadapan TUHAN. Ketujuh orang itu tewas bersama-sama. Mereka telah dihukum mati pada awal musim menuai, pada permulaan musim menuai jelai.
Lalu Rizpa binti Aya mengambil kain karung, dan membentangkannya bagi dirinya di atas gunung batu, dari permulaan musim menuai sampai tercurah air dari langit ke atas mayat mereka; ia tidak membiarkan burung-burung di udara mendatangi mayat mereka pada siang hari, ataupun binatang-binatang di hutan pada malam hari.
Ketika diberitahukan kepada Daud apa yang diperbuat Rizpa binti Aya, gundik Saul itu, maka pergilah Daud mengambil tulang-tulang Saul dan tulang-tulang Yonatan, anaknya, dari warga-warga kota Yabesh-Gilead, yang telah mencuri tulang-tulang itu dari tanah lapang di Bet-San, tempat orang Filistin menggantung mereka, ketika orang Filistin memukul Saul kalah di Gilboa.
Ia membawa dari sana tulang-tulang Saul dan tulang-tulang Yonatan, anaknya. Dikumpulkanlah juga tulang-tulang orang-orang yang digantung tadi, lalu dikuburkan bersama-sama tulang-tulang Saul dan Yonatan, anaknya, di tanah Benyamin, di Zela, di dalam kubur Kish, ayahnya. Orang melakukan segala sesuatu yang diperintahkan raja, maka sesudah itu Allah mengabulkan doa untuk negeri itu.

Perenungan:
Ada hal menarik ketika membaca nats di atas.
Mengapa Tuhan memberikan penghukuman kepada Israel pada jaman raja Daud, padahal kesalahan ada pada raja Saul?

Beberapa hal yang dapat dipelajari dari peristiwa di atas:

  1. Kesalahan berupa hutang darah yang dilakukan pendahulu, tidak dapat dihilangkan begitu saja ketika yang bersangkutan meninggal.
    Ketika bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, Yosua telah bersumpah kepada orang Gibeon untuk tetap membiarkan mereka hidup.
    Beratus tahun kemudian, ketika Israel dipimpin oleh raja Saul, maka raja Saul memiliki agenda untuk memunahkan orang Gibeon tersebut.
    Dan hal ini menjadi kejahatan di mata Tuhan.
    Sekalipun raja Saul telah meninggal, Tuhan memberi penghukuman berupa kelaparan selama 3 tahun kepada umatNya atas kesalahan tersebut.
  2. Tuhan ingin agar Daud membereskan hutang darah akibat keputusan Saul.
    Dari ayat 1 jelas terlihat bahwa Daud awalnya tidak menyadari adanya hutang darah tersebut.
    Sampai ketika kelaparan telah berjalan selama 3 tahun, barulah raja Daud menyadari ada yang tidak beres, sehingga Daud memutuskan untuk bertanya kepada Tuhan.
    Mengapa hukuman Tuhan tidak dijatuhkan pada jaman raja Saul?
    Ada beberapa kemungkinan:
    a. Raja Saul tidak akan bertobat
    b. Raja Saul tidak akan pernah bertanya kepada Tuhan untuk meminta petunjuk Tuhan, sehingga hukuman Tuhan tersebut tidak menyelesaikan masalah hutang darah tersebut.
    Bersyukur raja Daud adalah seorang yang mencari petunjuk Tuhan, sehingga hutang darah tersebut akhirnya dapat diselesaikan.
  3. Tuhan dengan sengaja memberikan kelaparan selama 3 tahun kepada umatNya agar umatNya menyadari adanya hutang darah terhadap Gibeon, kemudian melakukan pendamaian dengan Tuhan dan dengan orang Gibeon tersebut.
    Ada 7 orang keturunan Saul yang menerima hukuman mati untuk menebus kesalahan raja Saul yang telah melanggar sumpah Yosua dengan membunuh orang-orang Gibeon.
    Dituliskan bahwa orang-orang tersebut digantung di hadapan Tuhan, artinya ketika Saul melakukan kesalahan dan kejahatan terhadap orang Gibeon, maka hal itu juga merupakan dosa terhadap Tuhan, dan harus dibereskan di hadapan Tuhan.

Aplikasi:

  1. Menyadari ada konsekuensi dosa yang tidak berhenti pada orang yang berbuat dosa tersebut, dan tidak hilang sekalipun orang yang berbuat dosa tersebut meninggal.
  2. Menyadari bahwa Tuhan menuntut pemberesan dosa, tidak dibiarkan atau bahkan dilupakan bergitu saja.
  3. Menyadari bahwa Tuhan menggunakan situasi buruk, hal-hal yang tidak nyaman untuk memberi peringatan kepada umatNya agar bertobat dan melakukan pemberesan dosa.
  4. Menyadari bahwa Tuhan mencari orang-orang yang mau dengar-dengaran perkataanNya, untuk dipakai sebagai alat Tuhan melakukan pemberesan-pemberesan atas dosa dan penyimpangan.
    Mari seperti Daud, datang kepada Tuhan meminta petunjukNya,
    merendahkan hati untuk dikoreksi, ditunjukkan kesalahan,
    mau bertobat, melakukan tindakan koreksi,
    dan mau menerima konsekuensi sekalipun sangat berat.
  5. Menyadari bahwa kejahatan terhadap sesama merupakan dosa terhadap Tuhan.
    Dan untuk pemberesan dosa tersebut, maka harus ada pendamaian di hadapan Tuhan, melakukan pendamaian dengan Tuhan dan dengan sesama.
    Ketika melakukan pemberesan dosa dan kembali diperdamaikan dengan Tuhan, maka berkat dan anugerah Tuhan akan kembali tercurah dalam kehidupan umatNya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here