Hanya, ……

0
13
Curious brunette asian woman eavesdropping interesting gossip and secret rumours about her. Intrigued serious person with hand at ear overhearing people gossiping with interest.

Oleh : IL

1 Raja-raja 3:1-3

Lalu Salomo menjadi menantu Firaun, raja Mesir; ia mengambil anak Firaun, dan membawanya ke kota Daud, sampai ia selesai mendirikan istananya dan rumah TUHAN dan tembok sekeliling Yerusalem.
Hanya, bangsa itu masih mempersembahkan korban di bukit-bukit pengorbanan, sebab belum ada didirikan rumah untuk nama TUHAN sampai pada waktu itu.
Dan Salomo menunjukkan kasihnya kepada TUHAN dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya; hanya, ia masih mempersembahkan korban sembelihan dan ukupan di bukit-bukit pengorbanan.

Perenungan:
Pada awal pemerintahannya Salomo mengambil tindakan-tindakan untuk mengokohkan kerajaannya.
Pada 1 Raja-Raja pasal 2 Salomo ‘membereskan’ semua orang-orang yang menjadi musuh politiknya.
Pada pasal 3 ini dituliskan langkah Salomo membuat perjanjian dengan Mesir, kerajaan yang besar saat itu, dengan menikahi anak Firaun. Perjanjian ini lebih dalam dan mengikat karena telah menyatukan dua kerajaan menjadi satu keluarga.
Raja Salomo juga menjalankan pemerintahannya sesuai amanat yang disampaikan oleh Daud, ayahnya.
Salomo hidup mengikuti ketetapan-ketetapan seperti yang diarahkan oleh Daud, untuk setia kepada Tuhan, mengikuti hukum-hukum Tuhan dan melangkah di dalam jalan yang Tuhan tunjukkan (1 Raja 2:1-4).
Salomo juga mulai membangun rumah TUHAN di Yerusalem seperti yang Tuhan telah tetapkan.

Namun….
di tengah hal-hal yang baik tersebut, ada yang masih belum seperti yang Tuhan inginkan.
Ada 2 kata “hanya” dari 4 ayat di atas yang menunjuk kepada satu hal, yaitu bangsa Israel dan raja Salomo sendiri yang masih mempersembahkan korban di bukit-bukit pengorbanan.
Padahal, sejak jaman Musa, sebelum bangsa Israel memasuki tanah perjanjian, Tuhan telah memerintahkan untuk memusnahkan segala bukit pengorbanan yang adalah tempat pemujaan dewa-dewa bangsa-bangsa Kanaan.

Bilangan 33:50-53
TUHAN berfirman kepada Musa di dataran Moab di tepi sungai Yordan dekat Yerikho:
“Berbicaralah kepada orang Israel dan katakanlah kepada mereka: Apabila kamu menyeberangi sungai Yordan ke tanah Kanaan,
maka haruslah kamu menghalau semua penduduk negeri itu dari depanmu dan membinasakan segala batu berukir kepunyaan mereka;
juga haruslah kamu membinasakan segala patung tuangan mereka dan memusnahkan segala bukit pengorbanan mereka.
Haruslah kamu menduduki negeri itu dan diam di sana, sebab kepadamulah Kuberikan negeri itu untuk diduduki.

Mengapa Tuhan begitu membenci bukit-bukit pengorbanan tersebut?
Karena di tempat itulah telah dilakukan penyembahan kepada dewa-dewa Kanaan dengan segala ritualnya yang menjijikkan bahkan sampai ada nyawa anak yang dikorbankan kepada dewa.
Sehingga ketika bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan dan tidak memusnahkan bukit-bukit pengorbanan tersebut, bahkan memfungsikannya untuk mempersembahkan korban kepada Tuhan, maka hal tersebut tidak bisa dianggap remeh.
Segala tempat, perkakas & barang-barang yang pernah dipakai untuk penyembahan berhala adalah barang-barang tumpas yang sangat menjijikkan di mata Tuhan.

Pada 1 Raja 3:2b dituliskan tentang alasan bangsa Israel masih mempersembahkan korban kepada Tuhan di bukit pengorbanan yaitu karena belum didirikan rumah Tuhan.
Namun… hal tersebut bukan menjadi alasan, karena ternyata Tuhan tidak berkenan.
Selama perjalanan bangsa Israel di padang gurun pun, korban kepada Tuhan tetap dapat dilakukan (Keluaran 24).

Beberapa hal yang dapat dipelajari antara lain:

  1. Penyembahan kepada Tuhan haruslah dilakukan dengan cara yang berkenan kepada Tuhan.
    Sebagai umat Tuhan haruslah menundukkan diri untuk mencari tahu penyembahan seperti apa yang berkenan kepada Tuhan sehingga tidak merasa sudah menyembah Tuhan namun ternyata Tuhan tidak berkenan.
  2. Pemimpin dituntut untuk peka, dan mau mencari kehendak Tuhan sehingga dapat membawa orang-orang yang Tuhan percayakan (baik dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan) untuk melakukan hal-hal yang berkenan kepada Tuhan.
    Ketika pemimpin tidak peka pada kehendak Tuhan, maka akan membawa orang-orang di bawahnya untuk melakukan hal-hal yang menyimpang.
  3. Membangun hal rohani adalah yang terutama dalam kehidupan, jangan sampai tertunda.
    Sejak awal pemerintahannya, Salomo membangun rumah Tuhan sampai selesai sehingga kemudian menjadi tempat pertemuan antara umat Tuhan dengan Tuhan Allah.

Aplikasi:
Mari cek, adakah hal-hal dalam kehidupan kita yang tanpa kita sadari sebelumnya ternyata tidak berkenan kepada Tuhan?
a. apakah penyembahan kita kepada Tuhan dilakukan dengan cara yang berkenan kepadaNya?
b. apakah kita mau dengar-dengaran suara Tuhan sehingga selalu siap menerima koreksi dari Tuhan?
Sehingga ketika disadarkan masih ada kata “hanya” dalam kehidupan kita, kita mau segera berubah.
Jangan sampai ada sisa barang-barang tumpas yang masih kita simpan.

Roma 12:2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here