Ga Ada Bedanya Dengan Orang Dunia!

0
2

Oleh : IL

1 Samuel 31:1-7

Sementara itu orang Filistin berperang melawan orang Israel.
Orang-orang Israel melarikan diri dari hadapan orang Filistin dan banyak yang mati terbunuh di pegunungan Gilboa.
Orang Filistin terus mengejar Saul dan anak-anaknya dan menewaskan Yonatan, Abinadab dan Malkisua, anak-anak Saul.
Kemudian makin beratlah pertempuran itu bagi Saul; para pemanah menjumpainya, dan melukainya dengan parah.
Lalu berkatalah Saul kepada pembawa senjatanya:
“Hunuslah pedangmu dan tikamlah aku, supaya jangan datang orang-orang yang tidak bersunat ini menikam aku
dan memperlakukan aku sebagai permainan.”
Tetapi pembawa senjatanya tidak mau, karena ia sangat segan.
Kemudian Saul mengambil pedang itu dan menjatuhkan dirinya ke atasnya.
Ketika pembawa senjatanya melihat, bahwa Saul telah mati, ia pun menjatuhkan dirinya ke atas pedangnya, lalu mati bersama-sama dengan Saul.
Jadi Saul, ketiga anaknya dan pembawa senjatanya, dan seluruh tentaranya sama-sama mati pada hari itu.
Ketika dilihat orang-orang Israel, yang di seberang lembah dan yang di seberang sungai Yordan, bahwa tentara Israel telah melarikan diri,
dan bahwa Saul serta anak-anaknya sudah mati, maka mereka meninggalkan kota-kota mereka lalu melarikan diri juga; kemudian datanglah orang Filistin dan menetap di sana.

Perenungan:
Pasal terakhir kitab 1 Samuel ditutup dengan tragis, Saul, raja Israel terkena panah musuh…
3 orang anak-anak Saul, para kesatria-kesatria yang gagah perkasa, salah satunya adalah Yonatan, sahabat Daud, mati terbunuh…
Kemudian Saul yang telah terluka parah memutuskan untuk menjatuhkan diri pada pedang, dan tindakan tersebut diikuti oleh pembawa pedangnya.
Ya, Saul, raja Israel memutuskan untuk bunuh diri, daripada dijadikan permainan musuh sebelum musuh membunuhnya.

Tindakan bunuh diri Saul selintas terasa sangat manusiawi dan sangat masuk akal!
Bayangkan… pada masa itu raja yang berhasil dikalahkan akan dipermalukan dengan cara yang sangat tidak manusiawi..
Ada yang dipotong ibu jari tangan dan kakinya, mungkin tujuannya agar tidak bisa memegang senjata dengan baik sehingga tidak menjadi ancaman dan menjadi benar-benar tidak berdaya…
Selain dilumpuhkan, raja yang telah kalah perang tersebut sangat dipermalukan…
ada yang dibiarkan kelaparan sampai rela mengais-ngais sisa makanan di bawah meja raja yang mengalahkannya. (Hakim Hakim 1:6-7).
Tindakan Saul untuk menyelamatkan martabatnya sangatlah masuk akal, dan sekilas kita pun mungkin dapat turut menyetujuinya..

Namun….
Bila dilihat esensi hidup manusia..
Bukankah hidup manusia itu milik Tuhan Allah Pencipta?
Bukankah hak Tuhan untuk mengakhiri hidup manusia?
Bukankah seharusnya manusia tidak berhak mengambil nyawa siapa pun termasuk dirinya sendiri?
Apakah sesuatu yang sangat ditakutkan dan secara logika pasti terjadi seperti itu dapat menghalalkan seseorang melakukan tindakan mengakhiri hidupnya sendiri?
Kalau jawabannya ya… maka akan banyak sekali alasan-alasan yang tampak masuk akal…
akan banyak hal yang mendesak begitu rupa sampai-sampai seakan-akan tidak ada jalan keluar lain.
Apakah keinginan instan seseorang melepaskan diri dari penderitaan jasmani yang amat sangat merupakan jalan keluar yang sah?…

Mari kembali ke esensi tentang siapakah manusia…..
Manusia adalah ciptaan Allah.
Milik Allah, bukan milik kita sendiri..
Apalagi seorang raja Saul.. yang pernah menikmati dekatnya hadirat Tuhan.. yang mengawali jabatannya sebagai raja dengan kepenuhan Roh Tuhan..
Mengapa mengakhirinya dengan cara yang sama dengan orang yang tidak pernah mengenal Penciptanya?..

Ketika seorang umat Tuhan menolak bertobat, dan tidak mau kembali kepada Tuhan…
maka.. pikiran.. kehendak dan keputusan-keputusannya sudah seperti seorang yang belum pernah mengenal Tuhan…
Ia akan mengambil tindakan yang sama dengan yang diambil orang-orang dunia…
ga ada bedanya!

Aplikasi:

  1. Menyadari bahwa hidup kita bukanlah milik kita sendiri, melainkan milik Tuhan Pencipta kita.
    Kita tidak memiliki hak dan tidak pernah diberikan hak untuk mengambil nyawa siapa pun termasuk nyawa kita sendiri.
  2. Menyadari bahwa ketika dalam keadaan sangat terjepit, umat Tuhan memiliki Allah yang sanggup meluputkan dengan caraNya yang ajaib,
    namun itu hanya bila kita mau meminta pertolonganNya.
  3. Jangan biarkan pikiran buntu dan salah menguasai hati dan pikiran kita, dan mendorong untuk mengakhiri hidup kita sendiri, karena hidup kita berharga di mata Tuhan. Mari kita juga dengan sungguh-sungguh menghargai hidup kita.
  4. Menyadari bahwa setiap dosa yang pernah kita lakukan harus dianggap sebagai sesuatu yang serius.
    Dosa demi dosa yang dibiarkan menumpuk akan menghalangi hubungan kita dengan Tuhan.
    Mari bereskan setiap dosa dan kesalahan di hadapan Tuhan.
    Agar sebagai umat Tuhan kita mengalami pembaharuan dalam pikiran, sehingga keputusan yang diambil tidak menjadi sama dengan dunia.
  5. Mari merespon segala sesuatu dengan cara pandang Tuhan, bukan cara pandang dunia, agar keputusan-keputusan yang kita ambil ga sama dengan orang-orang dunia.

Roma 12:1-2
Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan
manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here