Berapa Lama Lagi….?

0
173

Oleh : IL

Kitab Amsal ditulis oleh raja Salomo.
Tujuan penulisan amsal ini ditulis dengan gamblang di awal kitab ini, yaitu:
untuk mengetahui hikmat dan didikan,
untuk mengerti kata-kata yang bermakna,
untuk menerima didikan berperilaku bijak (instruction in wise behavior)
untuk menerima kebenaran (righteousness)
untuk menerima keadilan (justice)
untuk menerima kejujuran (equity)

Disebutkan ada kelompok orang yang menjadi target pembaca amsal ini,
yaitu:
Bukan saja orang muda & orang yang tak berpengalaman, namun juga orang bijak & orang yang berpengertian.

Apa hasil dari membaca, memahami amsal lalu merespon dengan benar?
Orang-orang muda & tak berpengalaman menjadi orang-orang yang pandai, cerdas, berpengetahuan serta bijaksana.
Woww..
Bahkan bagi orang bijak & berpengertian pun dapat menambah ilmu, memperoleh bahan pertimbangan.

Namun ternyata ada kunci utama, bagaimana sikap seseorang akan menentukan respon ketika membaca amsal ini.
Apakah itu?
Kuncinya adalah sikap hati yang takut akan Tuhan!
Ketika seseorang memiliki takut akan Tuhan…saat mengetahui kebenaran, ia akan menyesal, bertobat, memperbaiki diri, berubah.
Bila ia tidak mampu, ia akan datang kepada Tuhan minta dimampukan.
Saat memiliki takut akan Tuhan, maka ia tidak akan begitu saja mengabaikan kebenaran yang ia peroleh.

Apa lawan atau kebalikan dari takut akan Tuhan?
Ternyata adalah orang bodoh!
Yaitu orang yang menghina hikmat dan didikan.
Orang yang menolak Firman Tuhan.
Banyak orang yang pandai, terpelajar, kritis, bahkan jenius secara pengetahuan dunia….ketika menolak, mengejek Firman Tuhan…
maka mereka adalah orang-orang yang bodoh secara rohani.

Di bagian akhir amsal pasal 1 ini, ada sebuah pertanyaan diajukan oleh penulis amsal.
(22) “Berapa lama lagi, hai orang yang tak berpengalaman, kamu masih cinta kepada keadaanmu itu, pencemooh masih gemar kepada cemooh, dan orang bebal benci kepada pengetahuan?

Kemudian dilanjutkan dengan sebuah perintah…
(23) Berpalinglah kamu kepada teguranku! Sesungguhnya, aku hendak mencurahkan isi hatiku kepadamu dan memberitahukan perkataanku kepadamu.

Dan sebuah peringatan…
(24-28) Oleh karena kamu menolak ketika aku memanggil, dan tidak ada orang yang menghiraukan ketika aku mengulurkan tanganku,
bahkan, kamu mengabaikan nasihatku, dan tidak mau menerima teguranku, maka aku juga akan menertawakan celakamu; aku akan berolok-olok, apabila kedahsyatan datang ke atasmu, apabila kedahsyatan datang ke atasmu seperti badai, dan celaka melanda kamu seperti angin puyuh, apabila kesukaran dan kecemasan datang menimpa kamu.
Pada waktu itu mereka akan berseru kepadaku, tetapi tidak akan kujawab, mereka akan bertekun mencari aku, tetapi tidak akan menemukan aku.

(29-31) Oleh karena mereka benci kepada pengetahuan dan tidak memilih takut akan TUHAN, tidak mau menerima nasihatku, tetapi menolak segala teguranku, maka mereka akan memakan buah perbuatan mereka, dan menjadi kenyang oleh rencana mereka.

(32-33) Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya.
Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka.”

Perenungan & Aplikasi:

  1. Ada 2 pilihan respon hati kita ketika membaca kitab amsal ini, yaitu:
    a. Takut akan Tuhan, menghargai peringatan-peringatan & rambu-rambu yang diberikan (tentang kejahatan, tentang dosa seks, dan lain-lain) menyadari kesalahan lalu insyaf dan berbalik.

b. Mengabaikan, enggan, lalai.
Ketika seseorang berespon seperti ini, maka ia termasuk orang bodoh, orang yang tidak takut akan Tuhan.

Betapa kerasnya peringatan dalam amsal ini.
Mari kita merespon sungguh-sungguh peringatan-peringatan, teguran & arahan yang Tuhan berikan lewat kitab amsal ini, agar kita dapat menjalani hidup dengan bijaksana.
Lewat kitab amsal ini, Tuhan memperlengkapi anak-anakNya dengan hikmat yang dari atas, sehingga orang percaya dapat menjadi orang-orang yang menang dalam setiap aspek kehidupannya (jasmani, rohani & jiwa), dalam keluarga, pelayanan, pekerjaan yang Tuhan telah percayakan.

  1. Pertanyaan Berapa lama lagi…. menunjukkan kecenderungan manusia untuk tetap “nyaman” , tidak mau merubah sikap & perilaku sebelumnya yang sudah jelas salah.
    Mari kita menjadi orang-orang yang lembut hati, tidak keras hati, tidak bebal, menjadi orang-orang yang mudah diubah, dibentuk oleh Firman Tuhan..sehingga Tuhan leluasa memproses, mempersiapkan kita,leluasa memakai kita menjadi alat kemuliaanNya. Amin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here